Oleh: eckorb | 12/28/2010

Dr Kahar Tjandra

Dari Betadine hingga Hotel Gran Mahakam

Matahari siang itu terasa amat terik. Sungguh kontras dengan cuaca Jakarta dua minggu sebelumnya yang selalu didera hujan siang dan malam, hingga banjir. Seorang pria lanjut usia berjalan perlahan di teras depan Laboratorium Klinik Utama di bilangan Menteng, Jakarta. Rambutnya yang putih di bagian depan dan hitam di bagian belakang terkesan kerap dicat. Badannya sedikit membungkuk dan pandangannya menunduk. Seorang satpam mendekatinya dan membisikkan sesuatu di telinganya. Wajahnya memandang ke arah SWA agak lekat, lalu mengajak ke ruang kerjanya di lantai empat.

Sebagai pemilik 20 perusahaan antara lain PT Mahakam Beta Pharma yang memproduksi Betadine (antiseptik), Apotek Mahakam, dan Hotel Gran Mahakam di bawah naungan Grup Mahakam, dokter spesialis patologi klinik Kahar Tjandra tak seperti sosok pengusaha. Meja kerjanya agak berantakan. Ada seperangkat meja makan di tengah ruang kerjanya. Bahkan, untuk menerima tamu, hanya ada sofa warna hijau yang jelas bukan model terbaru.

Mantan dokter militer ini menceritakan kehidupan masa kecilnya yang sulit di Sawah Lunto, Sumatera Barat, yang membekas dalam dirinya hingga kini. “Saya ini royal pada orang lain, istri dan anak-anak, tapi sama diri sendiri pelit banget, ujar lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini. Tak heran, ia sangat terkesan dengan hadiah dari istrinya pada hari ulang tahunnya yang ke-75, sebuah Mercedes-Benz Sport untuk dua penumpang.

Semua barang yang melekat di tubuhnya, tutur Tjandra, adalah pemberian istri dan anak-anaknya. Sebutlah, sepatu, kemeja, celana, kacamata, ponsel Nokia Communicator 9300, sampai jam tangan warna abu-abu metalik merek A Lange & Sohne seharga Rp 200 juta. “Kalau tidak, saya akan terus pakai baju atau sepatu yang lama meskipun sudah bolong, katanya. Diceritakan Tjandra, suatu hari sang istri membuang sepatunya yang sudah bolong. Tak lama Tjandra mengambilnya kembali, tapi begitu ketahuan, dibuang kembali oleh istrinya, Evy Tjandra. Mengecat sepatu yang sudah pudar warnanya pun pernah dilakoni Tjandra.

Meskipun secara fisik layaknya pria yang mulai dimakan usia, suara Tjandra masih lantang, tegas, dan penuh semangat. Ia tak hanya suka bicara serius, tapi juga bercanda. “Kalau partner bisnis datang dari luar negeri, langsung saya ajak negosiasi sampai jam tiga pagi. Gimana gak kelenger. Begitu jam tiga pagi, biasanya dia langsung mengiyakan saja, ujarnya sambil terbahak-bahak. Untuk yang satu ini ia tak bercanda. Bapak tiga putri dan kakek tiga cucu ini memang punya energi yang besar untuk mengobrol. Wawancara untuk tulisan ini dilakoninya selama 6 jam dengan stamina tinggi. Meski mengalami sedikit kesulitan dalam pendengaran, ia masih bisa berpikir dengan prima dan ide-idenya terus mengalir.

Setiap pagi, ia bermain tenis pukul 06.00-07.30 nonstop, di bilangan tempat tinggalnya, Simprug Garden. Setelah itu, ia rutin menyambangi usahanya. Biasanya ia langsung ke Hotel Gran Mahakam di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Pada jam 12 siang, penikmat gado-gado ini sudah berada di kantornya di Laboratorium Klinik Utama di kawasan Menteng sampai jam dua siang. Sebagai penutup, lebih dulu ia mengunjungi pabriknya di kawasan Pulo Gadung hingga jam lima sore “Sampai rumah biasanya jam 6-7 malam. Meski tetap mengontrol secara langsung terhadap kelangsungan kerajaan bisnisnya, ia memberi jarak dalam operasionalisasi. Ia mengaku jarang melakukan rapat dengan manajemen, maksimum dua-tiga kali setahun. “Ngapain? Saya sudah gaji orang, kasih target, kok masih harus ikut campur, biarkan dong dia bekerja dengan kreativitasnya. Nanti banyak diurusin malah banyak nanya lagi, saya jadi repot. Saya tidak mau itu, Tjandra bertutur. Ia juga mengaku sebagai sosok yang paling enggan dengan formalitas dalam bekerja. Saya tidak mau saat satpam bertemu saya, lalu mereka lantas hormat, kata pria kelahiran Padang 24 November 1929 ini. Toh, baginya ia tetap lebih tahu apa yang terjadi di seluruh grupnya ketimbang istrinya yang justru terlibat banyak dalam manajemen.

Tjandra mengungkapkan, saat ini dalam usahanya, Betadine menguasai 90% pangsa pasar. Tak heran, produk ini merupakan tulang punggung usahanya. Tak tanggung-tanggung, kontribusi produk ini pada total pendapatan kerajaan usahanya mencapai 70%. Betadine yang awalnya merupakan obat luka kini berkembang menjadi berbagai item. Sebutlah, plester, obat kumur, cairan mandi antiseptik, salep untuk luka bakar, dan cairan kewanitaan. Semuanya dengan merek yang sama, Betadine. Kontributor kedua adalah hotel berbintang lima dengan konsep butik, Gran Mahakam, dan Apotek Mahakam yang kini berkembang menjadi empat gerai. Sumbangan ketiga diperoleh dari bisnis kue Le Gourmet.

Di luar bisnis itu, ia menggeluti berbagai bidang usaha lain. Sebutlah, Laboratorium Klinik Utama; Johar Exclusive Clinic; PT Daya Muda Agung yang bergerak di bidang distributor obat dan snack; PT Garis Kreasi Hijau yang mengerjakan percetakan kardus untuk toko kuenya; production house untuk mendokumentasikan acara-acara di Hotel Gran Mahakam; PT Beta Gasindo Agung (BGA) yang memproduksi gas untuk kebutuhan medis; serta PT Inkenas Agung yang meluncurkan saus, sirup, kecap, dan vetsin. Adapun total karyawannya berkisar 2-3 ribu orang.

Tjandra tak bisa menutupi kebanggaannya. Gas-gas medis milik BGA, lanjutnya, memiliki pangsa pasar hingga 80%. Kue sus keju buatan Le Gourmet diklaim sangat digemari SBY dan Megawati. Lalu, pabrik makanannya kini memiliki klien makloon seperti Ajinomoto, Matahari dan CNI. Pabrik ini juga mengeluarkan merek kecap Maya, sirup Teesy, dan cuka Prima. “Produksi sirup saja sudah mencapai 2 juta botol per tiga bulan, belum yang lainnya, ujar Tjandra seraya menerangkan bahwa ia selalu memilih nama dan menggambar logo sendiri perusahaannya.

Kebanggaan Tjandra semakin kental setiap ia merefleksi kembali perjalanan usahanya 40 tahun yang lalu. Bisnis pertamanya adalah Apotek Mahakam yang dibukanya pada 1967 di ruang tamu rumahnya di Jl. Mahakam, Kebayoran Baru, Jak-Sel. Itu pun ide awalnya bukan darinya, melainkan todongan temannya, seorang pejabat sekaligus apoteker. Meski Tjandra tidak paham bagaimana menjalankan bisnisnya, ia tetap melakoni “Kami cuma buat arus kas keluar-masuk, tak ada pembukuan. Lalu barangnya juga kebanyakan kardus doang, tak ada isinya. Kalau ada yang datang, saya beli ke toko lain, ujarnya mengenang seraya tertawa lebar.

Hal serupa terjadi pada Betadine. Awal keterlibatannya dalam memproduksi Betadine karena ditodong teman wartawannya. Ketika itu si teman mengenalkan Tjandra pada pemilik lisensi Betadine, Mundipharma AG-Switzerland. Akhirnya Tjandra mau berkongsi dengan temannya itu. Tepat pada 20 Desember 1977, ia mendirikan PT Mahakam Beta Pharma yang mulai berproduksi tahun 1980.

Sayang, lantaran si teman tidak bisa berbisnis akhirnya ia menjual seluruh sahamnya ke Tjandra. Begitu pula dengan bisnis kecap, saus dan sirupnya yang berada di bawah payung PT Inkenas Agung. Ketika itu Tjandra ditawari temannya untuk membuka pabrik kecap. Namun lantaran temannya tidak bisa mengelola, akhirnya seluruh sahamnya dibeli Tjandra.

Untuk memasuki suatu bisnis, Tjandra mengaku suka hal-hal yang bersifat eksklusif dan istimewa. Karena tak ada yang bisa menyaingi eksklusivitas sehingga tercipta keuntungan. Karena itulah dirinya terus mencari produk-produk eksklusif sampai sekarang. Contohnya, di laboratorium klinik miliknya, ia menawarkan jasa papnet, sebuah tes kanker leher rahim yang jauh lebih akurat ketimbang papsmear. “Tingkat kesalahan papnet cuma 2%, kalau papsmear mencapai 30%, katanya. Apabila pasien bebas kanker, ia juga menawarkan jasa eksklusif lainnya, vaksinasi MSD, agar terhindar dari kanker leher rahim seumur hidup “Di negera maju vaksin itu sudah diberikan ke semua penduduknya, katanya.

Tjandra juga membuat MST Constin, obat penghilang sakit berbahan dasar morfin bagi penderita kanker dengan lisensi dari luar negeri. “Obat ini memperbaiki kualitas hidup penderita kanker stadium akhir, sehingga menjelang akhir mereka tidak berteriak-teriak kesakitan seperti binatang di rumah sakit. Selain tidak menyebabkan ketergantungan, harganya juga lebih murah, cuma Rp 50 ribu/butir yang harus di makan dua kali sehari, ia menerangkan.

Tjandra mengaku belajar segala sesuatu secara otodidak. “Dulu apotek cuma dengan bookkeeping, tidak ada akuntansi. Belakangan melihat yang lain memakai pemasaran, baru saya ikuti, paparnya. Menjadi seorang otodidak tak ada hubungannya dengan banyak membaca buku. “Saya tidak suka baca dari dulu. Bahkan, semasa di Sekolah Dasar hingga lulus kuliah, dirinya juga jarang membaca. Kebiasaan ini berlanjut sampai menjadi pengusaha. “Ilmu saya dari hasil observasi. Dan tanya kiri-kanan.

Sanjaya Raharja, advisor di sejumlah usaha Grup Mahakam mengungkapkan, 20 tahun lalu, ketika pertama kali bergabung dengan Grup Mahakam, ia melihat bisnis Tjandra biasa-biasa saja. Kini, bisnisnya berkembang sangat bagus. Ia melihat Tjandra memiliki kemampuan dalam memilih produk yang bagus, unik dan prospektif. “Instingnya bagus, kata pria berusia 60 tahun ini. Ia mencontohkan Betadine. Ketika pertama kali mengembangkan merek Betadine, pasar dikuasai obat merah. Namun kemudian yang terjadi sebaliknya, Betadine yang menguasai pasar.

Hal yang sama terjadi pada papsmear dan MRI. Menurut Sanjaya, Tjandra merupakan orang pertama yang memperkenalkan layanan ini kepada masyarakat Indonesia. Sekarang, layanan ini memiliki teknologi yang beragam dan begitu populer. Pria yang dipercaya mengurusi perusahaan-perusahaan di bidang makanan, obat, gas dan distribusi ini mengungkapkan, Tjandra baru-baru ini meluncurkan ide Betadine Stick. “Ini semacam obat merah tapi pakai stik untuk mengolesnya dan hanya satu kali pakai, ia menerangkan.

Tjandra buka kartu “Bedanya saya dari orang lain, kalau saya tidak butuh waktu lama untuk melihat hal yang bagus, kata Tjandra sambil mencontohkan obat penurun kolesterol. Temannya memberi tahu tentang khasiatnya. Setelah itu Tjandra langsung mencari di pasar, lalu dites sendiri. Ternyata hasilnya memang bagus, kolesterol langsung turun drastis. Ia pun langsung membuat produknya. “Saya lagi tunggu peluncurannya sekarang, ujarnya seraya mengaku ide untuk membuat bisnis baru terus bermunculan dalam otaknya, dan tidak sabar untuk diwujudkan.

Toh, bagi Tjandra setelah sekian lama menjalankan bisnisnya, ia merasa telah melakukan kesalahan dalam mengembangkan bisnisnya. Yakni, bentuknya menentang gaya manajemen yang berlaku umum. “Makanya hanya bisa segini ini. Saya suka membuktikan kalau anggapan orang salah. Jika orang bilang A, saya ingin membuktikan bahwa saya benar dengan melakukan kebalikannya, ia berujar. Dulu ia menganggap melakukan bisnis dengan cara biasa-biasa saja bisa berhasil. “Itu sebabnya saya tidak bisa besar, sambung Tjandra.

Menyadari hal itu, sejak tahun 2004 ia melakukan perubahan untuk menggenjot omset. Ia menyewa sejumlah profesional. Bahkan, ia banyak mempekerjakan manajer yang muda-muda. Ternyata beberapa orang dalam malah memilih keluar lantaran tidak terbiasa dengan kondisi baru. “Tidak apa-apa. Asal mereka mendapat yang lebih baik, saya turut senang, katanya. Selain itu, ia juga membenahi sistem komputer perusahaan agar lebih efisien. Ia bahkan terlibat dalam mendesain ulang interior dan eksterior pabrik untuk melakukan perubahan di airflow, AC dan sistem administrasinya.

Namun, perihal iklan, Tjandra agak enggan mengikuti gaya manajemen modern. “Tidak ada yang menjamin keberhasilan beriklan. Sebaliknya, ia sangat menekankan efisiensi “Intip saja lima perusahaan publik. Lihat biayanya di bidang-bidang yang kami mau efisienkan, bandingkan dengan faktor lain seperti revenue dan tenaga sales-nya. Lalu bandingkan dengan kami. Apakah kami sudah efisien atau tidak? katanya menyarankan.

Tjandra menyadari regenerasi dan profesionalisme harus ia persiapkan dari sekarang. Saat ini ketiga putrinya telah lulus dari University of Southern California, Los Angeles, Amerika Serikat, masing-masing di bidang keuangan, engineering dan pemasaran. “Lengkap deh penerus saya, katanya sambil tertawa bangga. Anak-anak rencananya hendak ditempatkan di grup controller dan hanya bertugas memantau. Sementara jabatan presdir di masing-masing anak usaha kemungkinan besar bakal diserahkan ke tangan profesional.

Dalam berbisnis, lanjut Tjandra, yang utama adalah kesuksesannya. Bukan uangnya. “Uang, orang, kepercayaan akan datang dengan sendirinya kalau kami sukses, ujarnya. Selain itu, orang yang berhasil adalah orang yang beruntung. “Itu kepanjangannya, Love God, Understanding, Connection, Knowledge dan Yield (imbal hasil). Kayaknya saya sudah menjalani itu semua deh, tutur anak kedua dari 6 bersaudara, dari pasangan Hardi Syarif dan Noviar Syarif ini.

Di balik canda tawa dan keberhasilannya, sejak 1996 Tjandra menyisihkan sebagian penghasilannya untuk memberi beasiswa kepada 90 anak asuhnya melalui Yayasan Dr. Kahar Tjandra. Semua anak asuhnya ini merupakan calon dokter di Universitas Indonesia. Sejumlah foto bersama anak asuhnya tampak dalam bingkai yang apik di lemari foto di ruang kerjanya. Ia selalu menghadiri setiap wisuda anak asuhnya. “Makanya mereka dekat dengan saya. Mulai dari masalah kuliah, keluarga sampai milih pacar juga dibicarakan dengan saya. Terus terang, saya menikmati itu semua, Tjandra memaparkan. Semua ini dilakukan mengingat masa kecilnya yang sulit dalam pendanaan sekolah.

Samsi Jacobalis, teman satu angkatan Tjandra di kampus berjaket kuning dan mantan Kepala RSPAD, mengungkapkan, Tjandra adalah sosok yang sederhana dari dulu hingga sekarang. “Ia orang yang berani mengambil sesuatu di luar rutinitasnya, meskipun berisiko, ujar mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara ini. Tjandra, tambah dia, juga sosok yang idealis dan sosial. Baru-baru ini, misalnya, Tjandra mencoba mengenalkan teknik yang lebih baik dan lebih murah asal Kuba untuk membasmi malaria kepada Departemen Kesehatan. Selain itu, Tjandra juga merupakan sponsor tetap bagi Ikatan Alumni Universitas Indonesia angkatan 1960 “Salah satu bentuknya adalah aula FKUI di Salemba.

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.